Tradisi Nyelamet Dowong, Ikhtiar Warga Denggen Jaga Pangan Dan Alam

Uncategorized307 Dilihat
banner 468x60

Penegak.com – Selong, Tradisi adat Nyelamet Dowong kembali dilaksanakan masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Ritual turun-temurun ini menjadi simbol ikhtiar warga dalam menjaga tanaman padi dari serangan hama sekaligus wujud rasa syukur menjelang masa panen.

Puluhan perempuan tampak beriringan keluar dari areal masjid dengan membawa Tembolaq, baki tradisional khas Sasak yang berisi hasil bumi serta aneka kuliner lokal Lombok. Di dalamnya tersaji nasi, ketupat, lauk-pauk, hingga kue tradisional yang sarat makna budaya.

banner 336x280

Rombongan kemudian menuju kompleks makam leluhur untuk melaksanakan zikir dan doa bersama, dilanjutkan dengan pengambilan air suci di mata air Merta Sari yang diyakini memiliki nilai spiritual dan ekologis bagi pertanian warga.

Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa Nyelamet Dowong rutin digelar setiap tahun ketika usia padi memasuki satu bulan tanam.

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi adat yang wajib dilaksanakan. Sejak dulu, masyarakat percaya ritual ini menjaga tanaman dari gangguan dan membawa keberkahan,” ujarnya, Senin (2/2/2026).

Rangkaian upacara berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan pembersihan makam leluhur sebagai bentuk penghormatan, sementara hari kedua dilakukan prosesi pemotongan ayam di satu titik khusus.

Pemotongan ayam tersebut memiliki filosofi mendalam. Darah ayam dialirkan ke daun bambu yang telah disiapkan sebelumnya.

“Dari zaman dahulu, daun bambu yang terkena darah ayam dimanfaatkan sebagai pengendali hama alami. Ini bentuk kearifan lokal sebelum masyarakat mengenal pestisida kimia,” jelas Lalu Selamet.

Daun bambu tersebut kemudian ditempatkan di tengah sawah. Bau amis darah dipercaya menarik hama, sehingga hama berkumpul dan akhirnya mati. Setelah itu, air suci dari mata air Merta Sari dialirkan ke lahan pertanian untuk membersihkan sawah dari sisa hama.

Lebih jauh, Lalu Selamet menegaskan bahwa inti dari Nyelamet Dowong adalah ungkapan rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hasil panen melimpah.

“Kalau panen baik, ketahanan pangan terjaga. Ini sejalan dengan cita-cita besar swasembada pangan,” pungkasnya.

Antusiasme juga datang dari warga. Amaq Muslihin, salah seorang petani setempat, mengaku dengan sukarela menyiapkan berbagai hidangan untuk disantap bersama masyarakat dan tamu yang hadir.

“Kami lakukan ini dengan senang hati. Padi saya juga sudah mulai menguning. Mudah-mudahan setelah doa bersama ini, panen kami semakin baik,” tuturnya sambil menikmati hidangan.

Tradisi Nyelamet Dowong menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan berperan penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan ketahanan pangan di Lombok Timur.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *