Rayakan Idul Adha, Warga Kelayu potong 40 Ekor Sapi Di Masjid Al-Umary

Uncategorized173 Dilihat
banner 468x60

Penegak.com – Lombok Timur, Tradisi berkurban massal kembali mewarnai perayaan Idul Adha di Kelayu, Kelurahan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Memasuki tahun ke-26, warga setempat dengan penuh semangat menyembelih puluhan ekor sapi sebagai wujud syukur, kepedulian, dan upaya merekatkan tali silaturahmi.

 

banner 336x280

Kegiatan yang berpusat di Masjid Al-Umary ini tak hanya diramaikan oleh ribuan jamaah salat Id, tetapi juga oleh penyembelihan 40 ekor sapi yang seluruhnya merupakan swadaya dari masyarakat desa, baik yang tinggal di Kelayu maupun yang merantau di luar daerah.

 

Ketua Panitia Ibadah Kurban Masjid Al-Umary, Muhammad Yani QH, S.Pd, M.Pd, mengungkapkan rasa syukurnya atas kepercayaan para mudhohi. “Alhamdulillah, tahun ini Masjid Al-Umary kembali menyembelih 40 hewan kurban sapi. Ini bukti nyata semangat berbagi dan kepedulian sosial di Kelayu masih sangat tinggi,” ujarnya di sela acara, Senin (27/5).

 

Panitia mencatat, jumlah mustahiq (penerima daging kurban) mencapai 3.543 orang, terdiri dari warga Kelayu Selatan (2.053 orang) dan Kelayu Utara (1.490 orang). Sementara itu, jumlah pengurban tercatat sebanyak 280 orang, yang berasal dari warga mukim maupun perantau.

 

Salah seorang warga asli Kelayu yang kini tinggal di Mataram, Ema, mengaku sengaja pulang kampung untuk berkurban. “Saya ingin pulang berlebaran sekaligus bertemu sanak famili. Acara berkurbannya keren, setiap tahun selalu terbanyak. Semoga terus lestari,” tuturnya.

 

Lebih dari sekadar ritual tahunan, tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan warga kepada warisan luhur ulama kharismatik Nusantara, Tuan Guru Umar Kelayu atau Datok Umar, yang merupakan pendiri Masjid Al-Umary. Nama “Al-Umary” sendiri menjadi pengingat akan sanad keilmuan dan semangat persatuan yang diajarkan beliau.

 

“Mengerjakan kurban dan bergotong royong di masjid ini memiliki ikatan emosional dan spiritual yang kuat. Ini adalah cara kami merawat kebersamaan dan menghormati sejarah besar beliau,” ujar M. Saleh, seorang warga Kelayu.

 

Dengan konsistensi memasuki tahun ke-26, warga Kelayu membuktikan bahwa ibadah kurban bukan hanya soal menunaikan kewajiban, tetapi juga merawat jiwa gotong royong, solidaritas, dan silaturahmi yang diwariskan para pendahulu. (**)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *