Groundbreaking Rektorat ITSKES Muhammadiyah Selong, Mendikdasmen Abdul Mu’ti: “Jadilah Inovator, Bukan Follower”

Uncategorized211 Dilihat
banner 468x60

Penegak.com – Selong, Sejarah baru bagi dunia pendidikan tinggi Muhammadiyah di Lombok Timur. Institut Teknologi Sosial dan Kesehatan (ITSKES) Muhammadiyah Selong menggelar peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gedung rektorat kampus pada Ahad (17/5). Acara yang berlangsung khidmat ini dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.

 

banner 336x280

Kehadiran menteri disambut dengan rasa syukur dan bangga oleh seluruh sivitas akademika, pimpinan wilayah dan daerah Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat, para sesepuh, serta undangan lainnya. Dalam sambutannya, Rektor ITSKES Muhammadiyah Selong, H. Moh. Juhad, mengawali dengan bacaan syahadat dan penghormatan kepada semua pihak yang hadir di hari bersejarah tersebut.

 

“Mengenang sejarah Muhammadiyah di Lombok Timur, pada hari ini kita memulai pembangunan gedung rektorat. Perguruan tinggi ini pertama kali didirikan tahun 1987 atas izin menteri sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA). Selama 35 tahun, tepatnya Februari 2020, baru bisa bertransformasi menjadi Institut Teknologi Sosial dan Kesehatan (ITSKES) Muhammadiyah Selong,” papar H. Moh. Juhad.

 

Ia menjelaskan, awalnya kampus ini hanya memiliki satu program studi. Kini telah berkembang menjadi enam program studi, yaitu Administrasi Publik, Bisnis Digital, Administrasi Kesehatan, Hukum Bisnis, Informatika, serta Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

 

“Kami mohon doa dan dukungan semua pihak agar perguruan tinggi ini bisa mengimbangi perkembangan zaman. Kami sudah mulai bergegas. Dengan izin Allah dan dukungan Bapak Menteri, pembangunan gedung rektorat ini ditargetkan selesai dalam waktu 9 bulan. Insya Allah akan diresmikan tepat waktu,” ujar rektor mengakhiri sambutannya dengan salam.

 

Dalam sambutannya, Menteri Abdul Mu’ti pertama-tama menyampaikan selamat kepada Rektor ITSKES atas pembangunan gedung rektorat tiga lantai seluas 450 meter persegi tersebut. Namun dengan gaya khasnya yang lugas dan penuh candaan, ia menyoroti target waktu 9 bulan yang dinilainya “agak lama” untuk ukuran bangunan skala kecil.

 

“Saya dengar utangnya juga sudah ada. Sebenarnya istilahnya membeli masa depan dengan harga masa kini. Tapi alhamdulillah kita sebutnya pembiayaan, bukan utang. Sudah dihitung akuntabel. Kalau mau lebih cepat juga boleh, karena spiritnya adalah fastabiqul khairat,” ujar menteri disambut tawa hadirin.

 

Abdul Mu’ti kemudian memberikan tafsir mendalam tentang makna fastabiqul khairat. Menurutnya, frasa itu bukan sekadar berlomba-lomba dalam kebaikan, melainkan berlomba menjadi yang terbaik.

 

“Khoir punya makna superlatif. Kuntum khoira ummah artinya jadilah umat yang terbaik. Maka semangat menjadi yang terbaik ini harus kita bangun. Gedung-gedung yang kita bangun jangan hanya fisik semata, tapi ada spirit yang melekat,” tegasnya.

 

Ia menjelaskan empat fondasi menjadi yang terbaik: pertama, harus senantiasa berbuat baik (amal saleh); kedua, perbuatan baik harus banyak; ketiga, amal yang banyak harus excellent atau ahsan muamalah (jangan asal-asalan); keempat, menjadi yang pertama (awwalun) dan bukan sekadar pengikut.

 

“Jangan hanya jadi follower yang copy paste. Jadilah inovator. Amati, tiru, modifikasi. Jangan anti perubahan. Belajarlah dari yang lain, yang baik kita ikuti, yang tidak baik tidak usah kita ikuti,” pesannya.

 

Menteri juga mengkritisi tren lembaga pendidikan yang hanya mengejar jumlah hafalan tanpa pemahaman dan pengamalan. Ia mencontohkan surat Al-Ma’un yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan. Murid-muridnya hafal surat itu dan membacanya dalam salat, tetapi ketika diajak ke pasar melihat orang miskin dan anak yatim, mereka tidak berbuat apa-apa.

 

“Itulah bedanya Muhammadiyah. Bukan sekedar hafal Quran, tapi paham makna dan mengamalkannya. Jangan risau kalau tidak hafal 30 juz, juz 30 saja sudah bagus. Anak-anak jangan dipaksa hafal 30 juz saking ambisinya orang tua, sampai anak kehilangan kegembiraan belajarnya,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga mendorong digitalisasi pengelolaan zakat melalui sistem otodebet. Menurutnya, cara beragama harus terus diperbaharui (tajdid) tanpa mengubah syariat.

 

“Zakat dulu diambil ke rumah-umah. Sekarang bisa pakai otodebet. Minta persetujuan dua setengah persen, transfer ke rekening Lazismu. Itu namanya digitalisasi beragama. Beragama menjadi mudah. Jangan beranggapan beragama susah pahalanya banyak – tidak ada korelasi itu,” tegasnya.

 

Ia menutup sambutan dengan harapan agar ITSKES Muhammadiyah Selong tidak terjebak dalam tragedy of the common – matinya lembaga karena hanya biasa-biasa saja tanpa keunggulan spesifik.

 

Acara groundbreaking ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Abdul Mu’ti didampingi Rektor H. Moh. Juhad, jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB, serta para undangan. Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti lokasi pembangunan yang berada di kampus ITSKES Selong.

Dengan target penyelesaian sembilan bulan, diharapkan gedung rektorat baru ini menjadi simbol kebangkitan ITSKES Muhammadiyah Selong sebagai pusat pendidikan tinggi yang unggul, inovatif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *