Penegak.com – Ruang pertemuan di Selong mendadak berubah samar-samar haru. Bukan karena pidato formal bertele-tele, melainkan karena Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, memilih menyapa para perawat lewat hitungan usia.
“Tahun 2026 ini, usia harapan hidup kita sekitar 72 tahun. Tapi usia perawat baru menginjak 52,” ujarnya di hadapan peserta Rakerda PPNI yang juga dirangkai dengan halal bi halal.
Dia menarik napas, lalu tersenyum. Menurutnya, dalam sejarah Indonesia era Orde Baru dulu, 52 tahun adalah usia paling matang bagi sebuah profesi. “Profesional. Istimewa,” katanya pelan tapi tegas.
Satu potongan ayat dari QS Al-Maidah ayat 32 dia baca tanpa menggurui. Barang siapa memberi kehidupan satu manusia—dokter, perawat, siapa pun—maka seolah hidupkan seluruh manusia. “Ini kehebatan perawat. Cuma rawat satu orang, artinya merawat semua.”
Pernyataan itu sontak diamini kepala dinas kesehatan yang juga Ketua DPD PPNI setempat, Lalu Aries Fahrozi. Di lapangan, dia mengakui masih ada keluhan warga soal pelayanan. Tapi dia janji: terus berbenah.
Di luar seremoni, Bupati menyelipkan pesan khas yang tak terkesan menggurui: “Senyum itu obat juga. Senyum tulus dari kalian, kadang lebih manjur dari obat generik.”
Dia lalu bicara soal komitmen pemerintah kabupaten. Kata dia, mulai sarana hingga SDM di RSUD Lombok Timur, semua terus dilengkapi. Tujuannya sederhana: warga tak perlu bolak-balik dirujuk ke luar daerah. Cukup masuk rumah sakit kabupaten, semua kebutuhan kesehatan harusnya tersedia.
Muhir, ketua DPW PPNI NTB yang ikut hadir, tak bisa menyembunyikan lega. “Alhamdulillah, program kita nyambung dari presiden sampai dusun. Bukan sekadar seremonial,” ujarnya di depan puluhan peserta.
Sekadar catatan: Hari itu juga diumumkan anggota PPNI Lombok Timur sudah lebih dari 3.000 orang. Hanya kalah besar dari PGRI. Artinya, profesi perawat di sana bukan kelompok kecil.
Tapi dari semua rangkaian acara, satu pesan Bupati yang paling diingat peserta, diucapkannya di penghujung. Suaranya tak keras, justru merendah:
“Jadilah manusia bermanfaat bagi manusia-manusia lain.”
Tidak ada yel-yel propaganda. Tidak ada janji menggebu. Hanya kalimat pendek yang, bagi mereka yang tiap hari berhadapan dengan pasien dan keluarga cemas, bunyinya seperti pengingat kerja-kerja sunyi.














