Cegah Rabies, Pemda Lotim Sterilisasi Anjing Liar di Daerah

Uncategorized200 Dilihat
banner 468x60

Penegak.com – Upaya menjaga wilayah tetap bebas rabies terus digencarkan di Kabupaten Lombok Timur. Salah satu langkah konkretnya adalah pelaksanaan workshop sterilisasi dan vaksinasi anjing yang berlangsung pada Kamis, 30 April 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang NTB, serta komunitas peduli hewan.

 

banner 336x280

Namun, di sela-sela kegiatan, Wakil Bupati Lombok Timur, H. Mohammad Edwin Hadiwijaya, memberikan pandangan penting yang sedikit berbeda dari pendekatan umum. Menurutnya, fokus utama penanganan rabies bukanlah pada pengendalian populasi, melainkan pada upaya preventif agar anjing tidak menyerang manusia.

 

“Sebenarnya fokusnya bukan terhadap populasi dulu. Fokusnya adalah bagaimana anjing ini tidak menyerang manusia. Untuk tidak menyerang manusia perlu ada edukasi. Hewan ini rata-rata menyerang ketika diganggu, apalagi saat dia sudah punya anak,” ujar Edwin.

 

Ia menjelaskan bahwa edukasi masyarakat menjadi prioritas pertama. Masyarakat perlu memahami perilaku hewan, termasuk tidak mengganggu anjing yang sedang menyusui atau memiliki anak. Langkah kedua, lanjutnya, adalah memastikan hewan terutama anjing tidak menyebarkan rabies, yang membutuhkan peran petugas kesehatan hewan untuk mengambil sampel dan melakukan pengujian.

 

“Yang ke-3 barulah kita akan memilih untuk mengendalikan populasi. Pilihan eliminasi itu mungkin opsi terakhir. Ada sterilisasi, mengkandangkan mereka. Di Lombok Tengah, anjing liar ditangkap lalu dikandangkan. Kalau di Lombok Timur, yang paling pas mungkin melalui sterilisasi, untuk mencegah rabies sekaligus mengurangi agresivitas,” jelas Edwin.

 

Ia menambahkan, berdasarkan penelitian Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui rumah sakit hewannya, sterilisasi terbukti mampu menurunkan populasi anjing hingga 80 persen dalam lima tahun. Namun, kendala utama di Dinas Peternakan adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan biaya operasional sterilisasi yang tidak murah.

 

“Kita butuh SDM, butuh dana. Karena itu kita akan menentukan zona prioritas. Dinas Peternakan sudah punya 5 zona sasaran yang populasinya banyak dan sudah terdeteksi. Misalnya di Jibalit (dekat TPA) dan Tanjung Luar (dekat pasar ikan),” rincinya.

 

Untuk mengatasi kekurangan dana, pihaknya sedang menjajaki kemungkinan sponsor dari Jerman yang sebelumnya telah melakukan program serupa di Lombok Tengah. Kesempatan workshop ini dinilai penting untuk memberikan edukasi dan menjelaskan berbagai pilihan kebijakan yang akan ditentukan oleh pemerintah daerah.

 

“Nampaknya sekarang yang muncul adalah sterilisasi karena didukung penelitian Unhas dan fakultas kedokteran hewan dari universitas ternama. Namun umumnya sterilisasi belum banyak tersedia, bahkan untuk mencegah rabies pun kita baru sedikit,” ujar Edwin.

 

Ia berharap melalui workshop ini, kesadaran masyarakat meningkat, partisipasi aktif dalam membawa hewan peliharaan untuk divaksin semakin tinggi, dan target Lombok Timur sebagai daerah bebas rabies dapat terus dipertahankan secara berkelanjutan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *