Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra (LPSDM) NTB meluncurkan program khusus untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam menghadapi bencana, khususnya banjir, di tiga desa di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Program yang didukung oleh pemerintah Jerman ini bertujuan mengubah paradigma bahwa isu kebencanaan dan perubahan iklim bukanlah domain maskulin semata.
Direktur LPSDM NTB, Ririn Hayudiani, menjelaskan bahwa program ini merupakan intervensi di Desa Pijot, Ketapang Raya, dan Tanjung Luar. Tujuannya adalah mempersiapkan kapasitas masyarakat agar tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana seperti banjir bandang, banjir rob, dan kekeringan.
“Kami mendorong kepemimpinan perempuan karena hal ini sangat penting. Perempuan tidak bisa berkelit dari situasi bencana. Jika tidak siap, dampaknya perempuan akan paling sibuk dan paling terdampak,” tegas Ririn dalam Kick Off Program ‘Waves: Women School Leadership in Addressing Floods in Three Villages of East Lombok Regency’, Selasa.
Ririn memaparkan alasannya. Saat bencana terjadi, seringkali laki-laki dapat lebih mudah menyelamatkan diri, sementara perempuan, karena banyak pertimbangan untuk keluarga, justru sering menjadi korban. Kelompok rentan lain, seperti penyandang disabilitas, juga berada dalam situasi serupa. Selain itu, dalam situasi pascabencana, kerentanan terhadap kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga meningkat.
“Dalam konteks pembangunan, kita tidak boleh meninggalkan satu orang pun, termasuk dalam situasi krisis,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim, H. Ahmat, menyambut baik program ini. Ia menegaskan bahwa Sekolah Perempuan yang telah ada di 3 desa di Lotim dijadikan wadah untuk melindungi dan memberdayakan perempuan.
“Perempuan banyak masalah, mulai dari KDRT yang setiap waktu muncul di medsos, hingga pelecehan seksual yang masih menjadi isu nasional. Lotim sendiri selalu mencatatkan angka tertinggi untuk masalah ini. Peran semua OPD terkait sangat dibutuhkan untuk sama-sama menanggulangi masalah perempuan,” jelas H. Ahmat.
Sekolah Perempuan ini diharapkan dapat mengantisipasi bencana dan melahirkan perempuan-perempuan tangguh yang siap siaga.
Hj. Sri Hartini dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Lombok Timur menambahkan, banyak warga, terutama di daerah pesisir, sangat rentan terhadap banjir rob. Aktivitas para nelayan yang meninggalkan rumah pada malam hari menyebabkan yang tinggal dan harus berhadapan langsung dengan bencana adalah para perempuan.
“Oleh karena itu, perempuan harus siap siaga. Perempuan jangan sampai kalah dari laki-laki. Penguatan kapasitas perempuan untuk tangguh menghadapi bencana yang susah diprediksi ini sangat penting, karena masalah bencana tidak hanya soal fisik saja,” ujarnya.
Melalui program ini, diharapkan praktik baik yang diterapkan di tiga desa percontohan tersebut dapat direplikasi dan diterapkan di desa-desa lain di Lombok Timur, menciptakan ketangguhan yang inklusif dan menyeluruh dalam menghadapi bencana. ()



















