Hari-hari menjelang pendaftaran calon Bupati dan Wakil Bupati di kabupaten Lombok Timur tahun 2024, telah bermunculan beberapa calon yang terprediksi dan tidak dipridiksi. Dari beberapa bakal calon yang berseliweran di media cetak, media online maupun media sosial antara lain Khaerul Warisin, Syamsul Lutfi, Rumaksi, H. Nasrudin, Tanwir, TGH. Hazmi Hamzar, SJP Suryadi Jaya Purnama, dan Mugni digadang-gadang sebagai bakal calon Bupati. Sementara bakal calon wakil ada Edwin, Ranny, Sateriadi, Sukisman Azmy, Fatihin, Wahid dan Amrul Jihadi. Dari sekian banyak nama yang beredar didunia maya dan dunia baliho, panduk, bener muncul empat pasang yang keliahatannya sudah sangat pede untuk mendaftar di KPU Kabupaten Lombok Timur bahkan maisng-masing sudah mengkapling tanggal dari tanggal 27, 28 dan 29 Agustus 2024. Keempat bakal pasangan tersebut antara lain: Hairul Warisin dan Edwin Hadiwijaya; Syamsul Lutfi dan Wahid; Rumaksi dan Sukisman Azmy; dan Suryadi Jaya Purnama dan TGH. Khairul Fatihin.
Pada kesempatan kali ini penulis mencoba mempetakan kekuatan politik masing-masing pasangan calon yang akan bertarung di pemilihan bupati dan wakil Bupati Lombok timur dari beberapa perspektif. Pertama, dukungan partai; kedua, basis masa; ketiga, orang yang berpengaruh dibelakang layar; keempat tipologi Gerakan masing-masing bakal paslon; kelima biaya politik; dan Keenam, kerja sama dengan calon gubernur
Pertama, dukungan partai politik; dari dukungan partai politik untuk sementara sepertinya Hairul Warisin dan Edwin Hadiwijaya memiliki dukungan partai politik kalua menggunakan perpsepktif politik pusat masuk dalam radar Koalisi Indonesia Maju (KIM) disana ada Partai Gerindra, Golkar, PPP, PAN. Bakal calon Syamsul Lutfi dan Wahid ada Partai Perindo, PKB, PBB, Hanura dan PDIP. Kemudian Bakal Pasangan calon Rumaksi dan Sukisman Azmy ada Partai Nasdem, Demokrat dan Gelora. Bakal Pasangan Calon SJP dan Fatihin ada PKS. Persolan mendasar dari mesin partai adalah pemilihnya tidak idelogis namun pragmatis sehingga untuk bekerja maksimal ini menjadi kendala terbesar. Bukti kuat yang bisa menjelaskan fenomena ini adalah Ketika partai politik diverifikasi factual keanggotaan oleh penyelenggara pemilu masih ditemukan partai yang kesulitan mengumpulkan anggota partai bahkan jumlahnya sangat terbatas kecuali beberapa partai yang memiliki masa solid. Fenomena kedua adalah tren pemilih di Indonesia termasuk di Lombok timur adalah yang dipilih karena factor ketokohan yang memiliki modal sosial (social capital) tinggi misalnya orang sosok yang sangat berpengaruh kaya, kharismatik, dermawan, tokoh agama/tuan guru.
Soal dukungan partai politik, ada fenomen menarik terjadi terutama di pasangan SJP dan Fatihin. Public tahu bahwa dua srkandi NW yaitu Two Lale berlabuh di Gerindra dan memenangkan kursi DPR RI dan DPRD Propinsi NTB. Dimana Partai Gerindra Lombok Timur mencalon calon Warisin dan Edwin. Dipenghujung waktu saat mendekati pendaftaran NW mengusung calon sendiri artinya calon yang tidak sejalan dengan Partai Gerindra, logika sederhananya apakah mungkin jamaah NW akan mencoblos calon pilihan Partai Gerindra yaitu Warisin dan Edwin sementara mereka memiliki calon sendiri. Sepertinya NW mencoba berpijak di dua kaki yaitu calon sendiri dan partai gerindra. Pertayaan adalah apakah gerindra bisa mempermasalahkan ini kepada kedua srikandi NW, tentu ini pertayaan berat yang harus dijawab oleh mereka apakah mereka tidak dianggap membangkang terhadap partai gerindra yang sudah mendudukan mereka lalu di lapangan mereka tidak mendukung keputusan partai untuk mencalonkan pilihan partai. Politik itu sebuah pilihan dan setiap pilihan memiliki resiko. Karena ini adalah bagian Prilaku actor politik, prilaku actor politik semuanya seksi, karena seksi biasanya menarik perhatian.
Kedua, basis masa/basis dukungan, Ketika bebicara soal basis massa maka akan tertuju pada dua organisasi menstrem di Lombok timur yaitu organisasi NW dan NWDI. Memang Secara factual basis masa ini bisa diperdebatkan misalnya Ketika Ali Bin Dachlan mengalakan Sukiman Azmy dan Symasul Lutfi pada Pemilihan tahun 2013 dan pada tahun 2018 Sukiman Azmy mengalahkan samsul Lutfi. Kondisi ini tentu layak diperdebatkan apakah mainstren dua organisasi itu memiliki kekuatan yang solid. Pancor mau dua kali ini bertarung secara mandiri menjadi Bupati yang pertama kalah sementara Anjani belum pernah bertarung menjadi Bupati baru sebagai wakil bupati dan kalah. Kekuatan organisasi NW dan NWDI seperti akan terus diuji, karena sejatinya tidak bisa mengklaim seluruh abituren memiliki pilihan politik yang sama karena pada semua partai di Lombok pasti ada orang NW maupun NWDI. Disamping kedua organisasi tersebut ada Muhammadiyah, NU, Marakit, Yadinu, Assunah/Salafi, Tarikoh, Yayasan TGH Umar kelayu dan lain-lain. Ormas-ormas ini juga memiliki pengaruh cukup besar terhadap basis masa, sekalipun tidak secara terang benderang menyampaikan tapi secara salient pastinya mereka memiliki jagoan, artinya bahwa basis massa di kabupaten Lombok timur sangat mencair. Dengan demikian bisa dipetakan bahwa NW ada Suryadi Jaya Purnama dan TGH Fatihin dan NWDI ada Symsul Lutfi dan Wahid. Lalu basis masa Hairul Warisi dan Edwin serta Rumaksi dan Sukisman Azmy dari mana.? Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa selain NW dan NWDI masih ada NU, Muhammadiyah, Marakit, Assunah/Salafi, Torikah, Yayasan Tuan Guru Umar Kelayu dan lain-lain. Ormas-ormas tersebut memiliki peluang untuk didekati karena militansi anggota mereka tidak diragukan. Sebagaimana diketahui juga bahwa haerul warisi adalah pengusaha pupuk dan memiliki jaringan distributor pupuk yang cukup luas tersebar di di Lombok timur, begitu pula wakilnya Edwin memiliki pengaruh. Sementara Rumaksi dan Sukisman Azmy basis masanya memiliki peluang yang sama dengan pasangan lainnya untuk memperebutkan basis dukungan.
Ketiga, orang yang berpengaruh di belakang layar (politik drama turki), kalua dipetakan masing-masing bakal paslon memiliki orang berpengaruh di belakangnya misalnya Syamsul Lutfi dan Wahid mereka punyak Selogan Pasangan Pilihan TGB, artinya orang bisa menbaca bahwa ini paslon merupakan pilihan TGB, kita tahu bahwa TGB pernah menjabat dua kali menjabat Gubernur NTB. Kemudian Rumaksi dan Sukisman Azmy di tampilkan foto Sukiman Azmy bahkan seragan/baju yang dienakan dalam foto mereka Ketika Sukiman dan Rumaksi yalon bupati tahun 2018-2023, symbol ini tentu orang akan sangat mudah mengatakan bahwa ini adalah pilihan Sukiman bupati Lombok Timur Dua Peiode. Lalu SJP dan Fatihin Slogannya adalah pasangan calon pilihan NW tentu dengan sangat gampang orang akan menyimpulkan bahwa ini pilihan Ummy Raehanun dan TGB Atsani. Lalu yang cukup unik ini adalah Haerul Warisin dan Edwin dari beberapa baliho, bener maupun spanduk tidak menyebutkan siapa di belakang mereka. Namun demikian bisa saja orang menebak kedekatannya dengan Ali Bin Dachlan karena pernah menjadi wakilnya sehingga orang kemudian bilang pasti dia didukung oleh Ali BD. Ini bisa ditelusuri bagaimana seorang Ali BD juga mendukung salah satu calon Gubernur NTB yaitu Iqbal (dengan deklasri Bersama semeton Ali BD) yang notebene memiliki kesamaan dukungan dari KIM. Artinya bahwa mereka bertarung masing-masing membawa nama kebesaran tokoh yang memiliki pengaruh di masayarakat. Tentu ini menarik untuk kita cermati apakah tokoh idola mereka memiliki efek yang cukup efektif untuk mendulang suara dalam pemilukada ini.
Keempat, tipologi Gerakan masing-masing paslon, kita akan mulai dari Syamsul Lutfi dan Wahid, kita tahu bahwa pasangan ini diusung oleh Parindo, PKB, Hanura, PBB dan PDIP. Dari segi bacroud lutfi adalah seorang politisi yang sudah melalang melintang dalam dunia politik dari DPRD kabuapten, Wakil Bupati 2003/2008, DPR RI dari Partai Demorast dan Nasdem, artinya bahwa secara naluri politik tentu dia memiliki kepekaan/naluri politisi cukup mumpuni sehingga meutuskan untuk maju dalam pilkada tahun ini, disamping itu dia memiliki dukungan dari ormas NWDI. Sementara wakilnya adalah seorang politisi (anggota DPRD Propinsi) sekaligus pengusaha beras. Artinya bahwa ini pasangan cukup ideal sebagai penguasa sekaligus pegusaha dan sekaligus cukup bahaya manakala tidak mampu memisahkan dirinya sebagai penguasa dan pengusaha. Dismaping itu harapannya adalah karena didukung oleh PKB maka minimal dari warga NU bisa memberi sumbangsih suara, walaupun ada beberapa pendapat mengatakan bahwa antara PKB dan NU tidak ada hubungannya. Biasanya orang merasa memiliki kekuatan lebih akan menggunakan strategi bertahan dan tidak terlalu agresif, selo, sambil menimang-nimang serta fantasinya juga cukup tinggi. Tipologi ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah menyejukkan dan memberikan harapan yang terukur dan kelemahanya adalah cepat lengah.
Kemudian bakal pasangan calon Haerul Warisin dan Edwin, mereka adakah pasangan sangat progresif karena ditarget menang oleh KIM, sekalipun mereka dikudung oleh banyak partai politik cukup besar namun gerakannya sangat progresif. Gerakan progresif sudah dilakukan tiga tahun sebelumnya artinya mereka sudah lama melakukan investasi politik dengan masyarakat Lombok Timur. Dengan demikian bisa dibayangkan mereka sudah investasi politik sangat banyak. Kelemahannya adalah karena saking progresifnya kehabisan amunisi sebelum bertanding. Dari bacround kedua bakal calon ini sama memiliki basic pengusaha, dan sekaligus politisi serta Warisin memiliki basis birokrat. Warisin pernah menjadi Wakil Bupati Lombok Timur Periode 2013-2018 dan menjadi anggota DPRD Propinsi, sementara Edwin juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten dan Propinsi. Karena bebasis pengusaha biasanya perhitungan cukup matang soal untung dan ruginya.
Paslon ketiga adalah Rumaksi dan Sukisman Azmy, keduanya memiliki bacroud politisi, Rumaksi sebgai Anggota DPRD Propinsi dan Wakil Bupati Lombok Timur tahun 2018-2023, dan Sukisman Azmy menjadi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Rumaksi dengan gayanya yang lugas dan pembawaan apa adanya, dan sangat pemurah, tidak ada yang sulit, dan terbuka, ini salah satu modal sosial yang dia miliki sehingga Gerakan sosial sepertinya lebih dominan. Begitu juga dengan wakilnya cukup merakyat.
Paslon keempat adalah SJP dan TGH Fatihin, PKS adalah partai yang memiliki anggota cukup solid dan perkaderan partai jalan serta tingkat kerapian manajemen Kepartainnya cukup bagus terlepas dari fenomena PKS masuk KIM (Koalisi Indonesia Maju). Dimana kerja-kerja kepemiluan sangat rapi misalnya mulai dari pencalonan, calon, saksi, keatifan di TPS dan lain-lain. SJP adalah mantan DPR RI dari PKS dan kemduian calon wakilnya adalah seorang Tuan Guru dengan organisasi mass dari NW. dengan melihat modal sosial yang dimiliki oleh masing-masing mereka kelihatannya jika dipadukan dua kekuatan yaitu manajemen politik dan manajemen kepemiluan serta dikombinasikan dengan massa yang solid memiliki tingkat kekuatan cukup diperhitungkan.
Kelima soal biaya politik, Salah satu poin penting dalam politik adalah soal cost politik atau biaya politik. Bagaimanapun juga politik tidak bisa lepas dari biaya operasional untuk menggerakkan semua elemen untuk mencapai kekuasaan dan dalam waktu yang relative singkat, maka butuh biaya sangat tinggi kecuali mesin organisasi efektif berkerja. Maka bisa di perhitungkan keempat bakal paslon ini memiliki kemampuan keuangan dari mana itu menjadi penting, dalam kajian politik praktis dikenal dengan istilah bohir politik. Apakah dengan pilkada serentak nasional sekarang ini para bohir politik memiliki cukup dana untuk membiaya sekian banyak pilkada di 38 Propinsi dan 517 Kabupaten/Kota.
Keenam, kerja sama dengan calon gubernur, melihat paket calon gubernur NTB dan Lombok timur ada keterkaitan baik dari segi dukungan partai maupun kesamaan visi dan misi. Kerjasama antara paslon bupati dan gubernur dalam pemilukada sepertinya cukup efektif karena sekali berlayar dua pulau terlampui, hal ini juga bisa menekan biaya politik karena ada beban biaya politik ditanggung Bersama. secara umum bisa dilihat misalnya Warisin dan Edwin memiliki kesamaan dengan dengan Iqbal dan Dinda, kemudian Lutfi dan Wahid memiliki kesamaan dengan Siti Rohmi Jalilah dan Firin, kemudian Rumaksi dan Sukisman Azmy masih belum keliahatan, sementara SJP dan Fatihin dengan Zulkieflimansyah dan Suhaily.
Keenam instrument pemetaan ini merupakan Analisa di atas kertas, namun demikian dalam politik bisa berubah dengan sangat cepat manakala ada kepentingan yang lebih mendesak dan memungkin untuk mereka berkuasa. Dalam politk yang abadi adalah kepentingan dan politik tidak hanya bicara soal visi, misi dan strategi namun juga harus membaca fakta politik secara jeli dan bijaksana. Tantangan terbesar politik Indonesia saat ini adalah soal trust (kepercayaan) politik dari masyarakat, dampak dari trust politik yang rendah adalah politik berbiaya tinggi dan sebaliknya. Kalua masyarakat sudah mengeluarkan kata “raos caleg”(Bahasa Sasaq) yang artinya bicaranya calon legislatif nggak bisa dipercaya.


















