
Lombok Timur (penegak.com)-
Kabupaten Lombok Timur (Lotim) telah berhasil mencapai produksi padi sebesar 346 ribu ton pada tahun 2023, sehingga daerah ini tidak lagi mengenal masa paceklik. Produksi pangan, terutama padi, terus berlanjut sepanjang tahun dengan masa tanam dan panen yang konstan. Meski ada penurunan produksi pada bulan Desember, Januari, dan Februari, total produksi tetap signifikan.
Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Lotim, H. Badarudin, menyampaikan bahwa beberapa tahun lalu, produksi padi hanya dilakukan dua kali dalam setahun karena umur tanaman padi yang mencapai 6 bulan. Namun, dengan kemajuan teknologi, produktivitas padi meningkat menjadi 6-7 ton per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang hanya mencapai 3,5-4 ton per hektar.
“Dunia pertanian harus bergerak dinamis dengan sarana dan prasarananya, dengan pertimbangan alih fungsi lahan dan pertambahan jumlah penduduk,” ujarnya pada hari Rabu, tanggal 13 Juni 2024.
Untuk tahun 2024, target luas tanam ditetapkan sebesar 61.591 hektar dengan produksi gabah kering panen (GKP) sebesar 337.097 ton. Meski target ini lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2023 yang mencapai 346.857 ton, Lotim masih menunjukkan produksi yang signifikan.
Dari produksi GKP, sekitar 93,18 persen dikonversi menjadi gabah kering giling (GKG). Setelah dikonversi menjadi beras, produksi tahun 2023 setara dengan 204.359 ton beras. Dengan tingkat konsumsi per kapita per tahun sebesar 119,4 kg dan jumlah penduduk 1,39 juta jiwa, kebutuhan beras Lotim mencapai 116.085 ton per tahun. Dengan demikian, terdapat surplus beras sebesar 88.274 ton pada tahun 2023.
Keberhasilan ini didukung oleh keragaman agroekosistem yang ada di Lotim. Meski bagian selatan lebih banyak menanam tembakau, bagian tengah dan utara tetap menanam padi karena ketersediaan air yang cukup. Daerah seperti Wanasaba, Lenek, Aikmel, Pringgabaya, Pringgasela, Masbagik, Sikur, Montong Gading, dan Terara masih aman dalam hal produksi padi.
Untuk meningkatkan produksi pangan, ada rencana untuk mengembangkan intensitas tanam hingga empat kali dalam setahun. Penelitian dari Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BSIP) menunjukkan potensi penambahan indeks pertanaman hingga empat kali dengan varietas padi seperti gama gora 7 yang memiliki usia panen 72 hari. Penelitian ini sedang dikembangkan di beberapa tempat, meskipun ada risiko peningkatan hama penyakit dan gangguan pada lahan akibat intensitas tanam yang tinggi.
Dengan berbagai upaya ini, Lotim terus berupaya untuk meningkatkan produksi padi dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup bagi penduduknya. (r1)


















