Lombok Timur Belum Bisa Mandiri Sediakan Bahan Baku Industri Porang 

Berita162 Dilihat
banner 468x60

Penegak.com-

Di tengah hiruk-pikuk mesin pengolahan yang berdengung keras di pabrik tepung porang Lombok Timur, ada satu fakta yang tak bisa disembunyikan: bahan baku yang mengisi mesin-mesin itu sebagian besar bukan berasal dari tanah Lotim sendiri.

banner 336x280

 

Sejak beroperasinya industri pengolahan porang di daerah ini, Kabupaten Lombok Timur justru harus menggantungkan pasokan umbi porang dari luar wilayah, bahkan luar Nusa Tenggara Barat. “Yang terbesar dari KLU (Kabupaten Lombok Utara),” kata Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, saat ditemui di sela kunjungannya ke pabrik tersebut, Kamis (23/4/2026).

 

Bupati yang akrab disapa Bupati Iron itu mengakui, luas lahan porang di Lotim saat ini baru mencapai 400 hektar. Angka itu masih sangat jauh dari kebutuhan pabrik yang memiliki kapasitas olah 60 ton bahan baku basah per hari.

 

“Kalau dikalikan dengan produksi, mungkin belum cukup. Makanya kita datangkan dari mana-mana,” ujarnya.

Pasokan datang dari Nusa Tenggara Timur, Pulau Sumbawa, serta sejumlah daerah lain di luar NTB. Ironis memang, namun itulah realita yang harus dihadapi Lotim sebagai pendatang baru di industri hilirisasi porang.

Namun di balik keterbatasan luas lahan, ada satu keistimewaan yang justru bisa menjadi nilai jual. Budidaya porang di Lombok Timur, menurut Bupati Iron, masih berlangsung secara alami. Para petani tidak menggunakan pupuk kimia maupun insektisida.

 

“Tanah masih alami, tidak ada penyemprotan, tidak ada pemupukan,” tegasnya.

 

Kondisi ini membuat tanaman porang Lotim tumbuh dengan intervensi minimal. Petani hanya mengandalkan kesuburan alami tanah. Ironi lainnya, justru karena faktor ini, pemerintah daerah tidak perlu mengucurkan subsidi pupuk untuk komoditas porang. Tanah sendiri yang “bekerja”.

 

Porang termasuk tanaman musiman dengan masa panen bervariasi, antara 6 hingga 10 bulan—tergantung ukuran umbi yang diinginkan. Petani bisa memanen lebih cepat untuk umbi kecil, atau menunggu hingga hampir setahun untuk ukuran yang lebih besar dengan kadar glukomanan lebih tinggi.

 

Pabrik Berkapasitas 60 Ton, Stok Hanya 750 Ton

 

Direktur PT Sanindo Pangan Lestari, Rahadian, mengungkapkan bahwa saat ini stok bahan baku yang tersedia baru sekitar 750 ton. Padahal, kebutuhan pabrik setiap harinya mencapai 60 hingga 80 ton.

 

Jika dihitung kasar, dengan kebutuhan 60 ton per hari, stok 750 ton hanya akan bertahan kurang dari 13 hari. Artinya, pasokan harus terus mengalir dari luar daerah agar produksi tidak terhenti.

 

“Jumlah stok ini dinilai masih perlu ditingkatkan,” ujar Rahadian.

 

Pemerintah daerah menyadari betul tantangan ini. Karena itu, kerja sama dengan Kementerian Pertanian telah dijalin. Kementan akan memberikan pembinaan kepada petani porang serta bantuan benih dan bibit. Targetnya, luas lahan porang di Lotim bisa ditingkatkan secara signifikan dalam waktu dekat.

 

“Ini yang diinisiasi. Sekarang sudah dalam bentuk tepung dan berhasil diproduksi. Ekspornya rencana ke China,” kata Bupati Iron optimistis.

 

Hitungan Ekonomi: Petani, Pabrik, dan Daerah

 

Dari sisi ekonomi, harga bahan baku porang basah di tingkat petani saat ini mencapai Rp10.200 per kilogram. Setelah diolah menjadi chip (irisan kering), pemerintah daerah mendapatkan pendapatan Rp4.200 per kilogram. Sementara jika diolah lebih lanjut menjadi tepung, pendapatan daerah mencapai Rp4.000 per kilogram.

 

Bupati Iron mengakui bahwa total estimasi pendapatan daerah dari sektor porang masih akan dihitung lebih lanjut, mengingat produksi masih terus berjalan. Harga tepung pun belum final, tergantung pada perkembangan pasar dan kerja sama ekspor yang sedang dirintis.

 

Yang jelas, infrastruktur pabrik dan peralatan pengolahan seluruhnya disediakan oleh pemerintah daerah. Artinya, Lotim telah serius berinvestasi di sektor ini. Kini tinggal bagaimana membangun ekosistem hulu yang kuat agar pasokan bahan baku tidak bergantung pada daerah lain.

 

Harapan di Balik Ketergantungan

 

Meski saat ini masih “impor” bahan baku dari tetangga, Bupati Iron menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memperluas lahan porang. Dengan pembinaan dari Kementan dan antusiasme petani yang mulai melirik komoditas bernilai ekonomi tinggi ini, Lotim optimistis ke depan bisa mandiri.

 

Porang memang bukan tanaman sembarangan. Umbinya mengandung glukomanan, serat larut yang sangat dibutuhkan industri makanan, minuman, kosmetik, hingga obat-obatan. Harga jualnya yang stabil dan permintaan ekspor yang tinggi menjadikan porang komoditas strategis.

 

Jika Lotim berhasil meningkatkan luas lahan dan produktivitas, bukan tidak mungkin ketergantungan pada daerah lain akan berbalik. Lotim bisa menjadi sentra porang yang tidak hanya mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi juga memasok daerah lain.

 

“Kita optimistis industri porang bisa menjadi sektor unggulan yang menyerap banyak tenaga kerja dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah,” pungkas Bupati Iron.

 

Untuk sementara, mesin-mesin pabrik di Lotim tetap berputar. Truk-truk pengangkut umbi porang dari KLU, NTT, dan Sumbawa terus lalu-lalang. Namun di balik itu semua, ada harapan yang tengah ditanam bersama: bahwa suatu hari nanti, bahan baku yang mengisi pabrik itu sungguh-sungguh berasal dari tanah Lotim sendiri. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *