TGB ke Thailand: Pererat Silaturahmi, Teguhkan Fondasi Ilmu dan Akhlak

Dunia110 Dilihat
banner 468x60

 

banner 336x280

Dalam rangkaian safari dakwah yang berlangsung selama beberapa hari, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor sekaligus Ketua Umum PB NWDI, melakukan kunjungan ke sejumlah lembaga pendidikan Islam di Thailand Selatan. Kunjungan ini merupakan bentuk silaturahmi dan penguatan ukhuwah ilmiah lintas negara, yang disambut dengan hangat dan penuh kehormatan oleh komunitas muslim setempat.

Kemuliaan Ilmu, dan Pendidikan Kasih Sayang

Di Ma’had Tarbiyah Dakwah Islamiyyah, Yala, TGB menyampaikan tausiah yang menekankan tiga pilar utama. Pertama, pentingnya senantiasa bersyukur kepada Allah SWT sebagai ibadah yang pahalanya terus mengalir hingga akhirat. Kedua, kemuliaan ilmu yang menuntut penghormatan, baik melalui niat baik maupun adab lahiriah seperti berpakaian sopan yang diapresiasi TGB pada seragam imamah dan jubah para santri. Ketiga, pendidikan berbasis kasih sayang.

 

TGB juga mendorong para santri untuk mendalami makna nama lembaganya. Kata “Ma’had” dimaknai sebagai komitmen untuk menjaga, amanah, dan konsistensi (al-mulazamah). Sementara “Tarbiyah” adalah proses mendidik dan menumbuhkan secara bertahap dengan landasan kasih sayang. Sebagai fondasi, TGB menekankan prioritas tiga ilmu pokok: akidah, ibadah, dan akhlak.

 

Sebagai simbol silaturahmi, TGB menyerahkan cendera mata berupa hizib dan buku-buku karyanya kepada pimpinan Ma’had, Babo Ahmad Bin Adam. Babo Ahmad menyatakan kebahagiaan dan kehormatannya atas kunjungan ini dan berharap membawa berkah bagi lembaganya.

 

Motivasi Semangat untuk Anak Yatim dan Muslimah

 

Di Sekolah Darul Barokah, Yala, kunjungan TGB disebut sebagai silaturahmi balasan, setelah pimpinan sekolah tersebut pernah mengunjungi Pancor sepuluh tahun lalu.

TGB mengingatkan bahwa menjadi yatim bukanlah suatu kesedihan, karena mereka adalah kelompok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW.

TGB menegaskan bahwa menjadi muslimah harus berilmu. Beliau mengangkat contoh Siti Khadijah sebagai perempuan pertama yang beriman dan Siti Aisyah sebagai sumber ilmu para sahabat, menekankan bahwa kemuliaan perempuan diraih melalui ilmu.

 

TGB menutup dengan pesan universal tentang ilmu: “Barang siapa ingin bahagia di dunia, raihlah dengan ilmu. Barang siapa ingin bahagia di akhirat, raihlah dengan ilmu…”.

 

Al-Qur’an Sumber Keberkahan dari Allah

 

Dalam kunjungannya ke Madrasah Darussalam di Narathiwat, TGB menyampaikan pesan sentral tentang keutamaan Al-Qur’an. Beliau menegaskan, “Siapa yang menjaga Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menjaganya. Dan siapa yang menekuni Al-Qur’an, akan dibukakan baginya banyak jalan dan pintu keberkahan”.

 

Untuk memotivasi santri, TGB membagikan pengalaman pribadinya yang inspiratif: mulai menghafal Al-Qur’an di usia 17 tahun dan menyelesaikannya dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Beliau meyakini bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an adalah kunci yang membuka jalan keberhasilannya, dari pendidikan di Al-Azhar Mesir hingga menjadi Gubernur NTB.

 

Pihak madrasah yang diwakili Ustadz Muhammad Rusdi menyambut gembira dan menyatakan bahwa fokus Darussalam pada integrasi Al-Qur’an dan sains sejalan dengan keilmuan TGB. Mereka berharap kunjungan ini membuka pintu kerja sama keilmuan yang lebih erat.

Jembatan Keilmuan dan Fondasi Spiritual

Safari dakwah TGB ke Thailand memiliki beberapa dimensi signifikan: Pertama, Memperkuat Jaringan Ulama Nusantara-Semenanjung Melayu

Kunjungan ini menguatkan hubungan historis dan kultural antara komunitas muslim di Indonesia dan Thailand Selatan. Pertukaran ilmu dan silaturahmi seperti ini mempererat jaringan keilmuan Islam regional.

Kedua, TGB Menawarkan Narasi Pendidikan Islam yang Komprehensif dan Moderat

Pesan-pesan TGB menawarkan narasi pendidikan Islam yang seimbang: memadukan keteguhan pada akidah dan akhlak dasar dengan semangat menuntut ilmu, penghargaan pada tradisi (seperti pakaian santri), serta pentingnya kasih sayang dalam pendidikan. Pendekatan ini selaras dengan visi moderasi beragama yang kerap disampaikan TGB dalam berbagai forum.

 

Ketiga, Motivasi melalui Keteladanan Personal

Keberhasilan TGB, dari seorang penghafal Al-Qur’an menjadi tokoh nasional dan internasional, menjadi contoh hidup yang powerful bagi santri. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan ilmu agama tidak membatasi, justru membuka jalan untuk berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.

Safari dakwah TGB ke Thailand bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini adalah jembatan silaturahmi yang menghidupkan kembali ikatan ukhuwah, penguatan fondasi pendidikan Islam dengan menekankan ilmu pokok dan akhlak, serta sumber motivasi bagi generasi muda muslim di kedua negara.

Pemberian buku dan hizib sebagai cendera mata simbolis, namun pertukaran ilmu, semangat, dan komitmen untuk menjaga kemurnian agama dengan cara yang ramah dan penuh hikmah adalah warasan yang lebih abadi. Kegiatan ini diharapkan dapat terus mempererat hubungan dan membuka pintu kerja sama pendidikan yang lebih konkret antara Indonesia dan Thailand Selatan di masa depan.(r)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *