Penegak.com – Mataram – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan di akhir tahun 2025. Data per 31 Desember mengungkapkan bahwa inisiatif ini telah berevolusi menjadi program multidimensi yang tidak hanya berfokus pada perbaikan gizi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi akar rumput.
Pelaksanaan program ini telah menjangkau sekitar 1,65 juta jiwa penerima manfaat di seluruh wilayah NTB. Sasaran program mencakup spektrum yang luas, mulai dari dunia pendidikan hingga kelompok yang paling membutuhkan perlindungan gizi.
“Keberhasilan MBG tidak lagi diukur hanya dari piring makan peserta didik, tetapi juga dari bagaimana kita melindungi ibu dan anak sejak dini untuk memutus mata rantai stunting,” ujar Ahsanul Khalik, Ketua Satgas MBG Provinsi NTB, dalam keterangannya.
Selain menyentuh lebih dari 1,2 juta anak dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK/MA, program ini memberikan perhatian khusus pada kelompok 3B. Sebanyak 153.788 balita, 25.423 ibu hamil, dan 58.233 ibu menyusui tercatat sebagai penerima manfaat, menandai strategi preventif jangka panjang dalam penanganan masalah gizi.
Layanan MBG disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang jumlah dan ragamnya terus bertambah. Saat ini, 601 SPPG telah berfungsi secara operasional. Yang menarik, mayoritas infrastruktur ini dikelola oleh kekuatan non-pemerintah.
“Sebanyak 552 SPPG dijalankan oleh mitra masyarakat dan swasta. Ini adalah bukti bahwa MBG telah menjadi gerakan bersama,” tambah Khalik.
Fasilitas yang digunakan pun beragam, mulai dari bangunan yang didirikan khusus, rumah tinggal yang dialihfungsikan, hingga ruko dan rumah makan, menunjukkan adaptasi yang sesuai dengan konteks lokal.
Di sisi perekonomian, dampak MBG terasa signifikan. Program ini berhasil menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 25.900 orang warga NTB. Rata-rata, setiap SPPG melibatkan 40 hingga 45 tenaga kerja dalam berbagai peran, mulai dari ahli gizi, juru masak, hingga petugas distribusi dan administrasi.
Dampak berganda juga terlihat pada penguatan usaha lokal. Sebanyak 2.134 supplier terlibat dalam menyuplai bahan baku, dengan komposisi didominasi pelaku usaha kecil.
“Ini adalah kekuatan program: uang beredar di dalam daerah. 1.129 UMKM, 78 koperasi, dan 11 BUMDes adalah tulang punggung pasokan kita, mendorong kemandirian pangan dan ekonomi,” jelas Khalik.
Menuju Tata Kelola yang Lebih Matang
Dengan capaian yang solid hingga akhir 2025, MBG NTB dipandang telah memiliki fondasi yang kuat. Transformasi dari program bantuan menjadi instrumen pembangunan sosial-ekonomi yang terintegrasi menjadi kunci keberlanjutannya.
“Tahun 2026 kita fokus pada pemantapan, standarisasi, dan keberlanjutan. Targetnya, tata kelola yang semakin matang agar manfaat yang telah dirasakan 1,65 juta warga ini bisa terus kita jaga dan tingkatkan kualitasnya,” pungkas Ketua Satgas MBG NTB menutup pembahasan.













