UI Gelar Sosialisasi, Soroti Tingginya Angka “Merariq Kodeq” di Lombok Timur

Uncategorized232 Dilihat
banner 468x60

 

LOMBOK TIMUR (Penegak.com)-

banner 336x280

Tingginya angka pernikahan usia anak atau yang dikenal secara lokal sebagai merariq kodeq di Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB), mendorong Universitas Indonesia (UI) untuk turun tangan melakukan pencegahan. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, akademisi UI berupaya mengurai akar masalah dan menggalang kolaborasi untuk memutus mata rantai praktik tersebut.

 

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Jerowaru, Sabtu (1/11) lalu, mengangkat tema pencegahan kekerasan terhadap perempuan, dengan fokus pada pencegahan pernikahan usia anak. Dr. Diana T Pakasi, M.Si, Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI, menyatakan keprihatinannya atas kondisi di Lotim.

 

“Di Indonesia, tertinggi adalah NTB dan di NTB, Lotim yang tertinggi,” ungkap Diana saat dijumpai di sela-sela acara. Fakta ini berdasarkan penelitian yang dilakukan UI sendiri sejak tahun 2016.

 

Meski demikian, Diana mengakui telah terjadi sejumlah perubahan positif di Lotim pasca penelitian tersebut. Perubahan paling signifikan adalah terjalinnya kemitraan yang lebih baik antara organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dan tokoh masyarakat. “Sebelumnya terkesan jalan sendiri-sendiri. Sekarang sudah mulai muncul kesadaran kolektif dari para tokoh masyarakat maupun rokok adat,” jelasnya.

 

UI bersama Lembaga Pengembangan Sumberdaya Mitra (LPSDM) NTB aktif menggalang peran tokoh adat dan agama. Beberapa bulan sebelumnya, telah digelar diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan sejumlah tokoh untuk memperkuat komitmen pencegahan merariq kodeq.

 

Kearifan Lokal “Belas” Dihidupkan Kembali

 

Dalam upaya pencegahan, masyarakat adat Sasak sebenarnya memiliki kearifan lokal yang disebut belas, yaitu praktik untuk mencegah langsung terjadinya merariq kodeq. Dr. Diana mengungkapkan, praktik belas ini kini mulai familiar kembali di tengah masyarakat Suku Sasak setelah sebelumnya sempat memudar.

 

Secara data, kasus merariq kodeq memang sulit dipastikan jumlahnya. Namun, indikatornya terlihat dari tingginya angka kehamilan pada remaja putri yang dicatat oleh Dinas Kesehatan Lotim. “Hal ini jelas menunjukkan kasus merariq kodeq di Lotim cukup besar,” tegas Diana.

 

Urai Akar Masalah: Pendidikan, Media Sosial, dan Patriarki

 

Meski banyak regulasi telah dibuat untuk mencegah pernikahan anak, praktiknya masih kerap terjadi. UI berusaha membongkar akar masalah dari fenomena ini di tingkat masyarakat.

 

Dr. Diana mengungkap beberapa faktor penyebab yang teridentifikasi. “Pendidikan yang rendah, pergaulan di tengah remaja perempuan dengan hadirnya medsos yang menambah kerentanan, serta praktik budaya patriarki yang salah diartikan,” paparnya merinci.

 

Melalui serangkaian edukasi dan sosialisasi, UI berkomitmen untuk terus mengagendakan upaya pencegahan pernikahan usia anak. “Kita berupaya bongkar dan agendakan ke depan cegah pernikahan usia anak,” pungkas Dr. Diana, menegaskan komitmen jangka panjang universitas dalam mendampingi masyarakat Lotim.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *